Web 2.0 untuk Indonesia


Semula saya berfikir sejauh mana implementasi 2.0? Bidang apa saja yang sudah tersentuh oleh ide-ide cemerlang untuk menggaet jejaring sosial yang lebih leluasa? Setahu saya jejaring pertemanan sudah terlihat jelas (friendster, myspace, facebook, orkut, dan lain-lain), jejaring sosial profesional juga sudah jelas (linkedin), jejaring data-data bookmark (delicious.com, blinklist.com, furl.net, dan sebagainya), portal rss feeder (digg.com, technorati, dan sebagainya), jejaring perpustakaan digital (Library 2.0), jejaring informasi medis (Health 2.0), jejaring media (youtube, flickr), dan sebagainya. Dan ternyata ide-ide untuk membangun jejaring sosial berbasis Internet ini banyak sekali. Lihat saja di All Things Web 2.0.

OK, banyak. Lalu apa yang bisa kita bangun khusus untuk Indonesia? Maksud saya aplikasi-aplikasi web 2.0 untuk Indonesia? Digital Library dengan konsep Library 2.0? Bisa! Kerja sama untuk berbagi informasi kesehatan dengan konsep Health 2.0? Bisa! Berbagi berita dengan konsep News 2.0? Bisa! Sebetulnya semua bisa. Hanya saja yang saya lihat adalah butuh dukungan dari “penguasa”. “Penguasa” ini bisa penguasa infrastruktur yang dominan (misal untuk jaringan bisa didukung oleh Telkom, untuk berita-berita bisa didukung oleh Kompas, Tempo, Detik.com, dan sebagainya), dari departemen pemerintah yang terkait (misal untuk penerapan Health 2.0 sangat perlu dukungan kebijakan dari departemen kesehatan), atau bisa juga dari komunitas yang kuat untuk dapat memulainya. Artinya: “Penguasa” juga harus mulai melihat konsep web 2.0 ini sebagai sesuatu yang sangat penting.

Tapi mungkin, jika saya lihat kembali dari beberapa ide implementasi web 2.0, masih ada kesempatan untuk dapat mulai membangun sendiri aplikasi web 2.0. Tapi yang perlu diingat adalah kebutuhan server harus yang cukup baik, karena nantinya akan jadi pusat data! Tapi mari kita mulai untuk memikirkan kembali tentang ini.

Mendefinisikan Web 2.0 Indonesia…


Untuk memulai pengembangan sesuatu alangkah baiknya jika dimulai dengan mendefinisikan kebutuhan-kebutuhannya. Termasuk juga aplikasi web 2.0 untuk Indonesia. Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan:

  1. bentuk aplikasi web 2.0 seperti apa yang dapat dikembangkan di Indonesia? sebetulnya kita dapat mengembangkan sendiri aplikasi web 2.0 mengikuti bentuk kultur sosial masyarakat negara kita ini. Sebagai contoh: aplikasi “jejaring pertemanan” mungkin bisa didefinisikan lebih detail lagi. Saya memiliki ide untuk membangun jejaring alumni dari seluruh sekolah atau PT di Indonesia, dan masih terus saya godok, terutama memikirkan bentuk representasi pengetahuannya (karena web 2.0 salah satu komponennya adalah itu).
  2. apakah mungkin kita mendefinisikan representasi pengetahuan di beberapa bidang yang dapat digunakan dalam aplikasi web 2.0 di masing-masing bidang tersebut? Ambil contoh sederhana adalah aplikasi Health 2.0 yang melibatkan pengetahuan banyak pihak dan juga jejaring antar dokter, rumah sakit, pasien, farmasi, praktisi bidang kesehatan lain dan masyarakat umum. Sangat perlu untuk didefinisikan kebutuhan-kebutuhan pengetahuan yang dapat di bagi bersama-sama.

😀 Semoga tidak membuat bingung. Hanya ide saja…

Google Health


Jika ingin merasakan seperti apa contoh penerapan konsep Health 2.0, berkunjunglah ke Google Health, sebuah layanan gress dari Google yang disediakan secara publik bagi para pelanggannya secara cuma-cuma. Apa yang bisa kita dapatkan dengan Google Health ini? Sebagai sebuah penerapan konsep Web 2.0, Google Health mencoba menawarkan sebuah layanan pencatatan informasi kesehatan pribadi kita, selain itu dokter kita juga dapat memberikan masukan-masukan dan tambahan catatan-catatan menyangkut informasi kesehatan kita tersebut.

Hal menarik lain yang ditawarkan oleh Health 2.0 adalah kita dimungkinkan untuk mendapatkan informasi-informasi lain seputar dengan informasi kesehatan yang kita catat, artinya dengan Health 2.0 ini kita akan langsung dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman dari pemakai Internet lain seputar informasi kesehatan yang menjadi fokus kita.  Google Health mencoba memberikan fungsi yang serupa, walaupun untuk saat ini masihlah pada tahap awal. Tentu saja informasi yang kita simpan di Google Health ini, seperti halnya layanan lainnya, akan dijamin keamaanan dan kerahasiaannya seperti yang tertuang pada Term of Service dan Privacy Policy-nya. Saya akan mencoba merasakan manfaatnya…Silahkan rekan-rekan juga…

Apakah Ajax merupakan web 2.0?


Ajax sudah menggema sejak kurang lebih 3 tahun ini, dan banyak yang menyebut Ajax sebagai web 2.0. Nah…apakah memang web 2.0? Bisa di bayangkan memang, bahasa JavaScript yang sebelumnya sudah hampir mati karena berkurangnya peminat, tiba-tiba menghangat kembali, bahkan masuk dalam 10 besar bahasa pemrograman yang digunakan, karena muncul Ajax. Ajax sebagai ‘sosok’ yang mengusung konsep aplikasi desktop pada web telah membuat banyak orang terkesan. Bayangkan saja, kita bisa membuat aplikasi yang sangat interaktif di web browser pemakai. Bahkan kita bisa berinteraksi dengan web service secara mudah dengan menggunakan Ajax ini. Sungguh ruarr biasa! Efek samping dengan adanya ini adalah kebutuhan spesifikasi di sisi client pun menjadi lebih berat, karena sebagian pemrosesan untuk presentasi di lakukan kembali di sisi client (browser). Tapi bagaimanapun juga, Ajax telah menjadi kebutuhan “defacto” untuk sebuah aplikasi web. Jadi mungkin wajib perlu diketahui untuk para programmer web.

Kembali ke topik awal kita. Jika ada yang menyebut bahwa Ajax merupakan web 2.0 hal itu mungkin dikarenakan perubahan yang sangat mencolok yang di tawarkan Ajax untuk aplikasi web, maka orang juga menyebut Ajax sebagai sebuah penerapan web 2.0. Jika ditilik dari apa yang dibahas Tim O’Reilly dalam tulisannya berjudul “What Is Web 2.0 Design Patterns and Business Models for the Next Generation of Software“, beliau mengatakan bahwa pada web 2.0 hal yang perlu ditekankan salah satunya adalah web sebagai sebuah platform (sama seperti jika mengembangkan aplikasi pada platform Windows, Linux, dsb.). Oleh karena web harus sebagai sebuah platform, maka beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah interaksi yang dinamis, aplikasi menunjang pemakai untuk kustomisasi, menunjang jejaring sosial, dan aplikasi web dapat memberikan self description (metadata). Di wikipedia sendiri tertulis juga beberapa penerapan dari web 2.0 antara lain social-networking sites, wikis, blogs, dan folksonomies. Jadi, dari kedua tulisan tersebut boleh saya sarikan bahwa web 2.0 lebih menekankan pada bentuk aplikasi web yang menjadikan web sebagai sebuah platform yang dapat menjadikan web sebagai sarana untuk berkomunikasi dan membangun jejaring sosial pemakainya. Oleh karena web sebagai sebuah platform, maka dibutuhkan teknologi yang memungkinkan hal tersebut, Ajax yang digabung dengan XHTML dan CSS ternyata dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Ada yang lain juga seperti Macromedia Flash, Java Applet (sudah ditinggalkan dan “dapat” diganti dengan JavaFX), XUL dari Mozilla. (Di dalam XUL juga dapat dimasukkan AJAX.) Tapi akhirnya boleh kita katakan AJAX memang salah satu sebuah komponen teknologi kunci untuk dapat membangun aplikasi web 2.0, tapi AJAX bukanlah web 2.0 itu sendiri. Menurut saya, XUL bisa menjadi alternatif yang baik untuk membangun aplikasi dengan web sebagai platformnya.