Tips Sederhana untuk mengurangi ketergantungan..


Yang saya maksud dengan ketergantungan di sini adalah dalam kontek aplikasi/program di komputer. Tidak jarang kita mendengar dari rekan kita atau orang lain atau bahkan diri kita sendiri ketika ingin membuka sebuah file dokumen, .doc (format MS Office) misalnya, selalu harus menggunakan Microsoft Office. Ini yang saya sebut sebagai ketergantungan aplikasi. Dalam setiap kondisi ketergantungan ini ada baik dan tidaknya. Tapi dalam kontek Teknonologi Informasi, mestinya kita tidak boleh menggantungkan diri pada satu produk. Ketika kita menggantungkan diri pada satu produk, secara otomatis mau tidak mau membuat diri kita enggan untuk belajar menggunakan produk sejenis yang lain. Katakan saja dengan Microsoft Office dengan OpenOffice atau KOffice atau Google Office atau yang lain.

Saya berangan-angan saja, bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dengan ketergantungan ini? Yahh…setidaknya kita kurangi ketergantungan tersebut. Hmm… ini beberapa lontaran wacana yang saya pikirkan tentang hal itu:

  • yang perlu ada dahulu adalah niat atau keinginan untuk ingin tidak tergantung
  • lalu, cobalah pasang program/aplikasi sejenis dengan aplikasi yang membuat kita “tergantung”. Mudahnya, pasang OpenOffice berdampingan dengan MS Office, Photosop dengan GIMP, Yahoo Messenger dengan GAIM, dan sebagainya.
  • gunakan aplikasi yang menurut kita “kedua” tersebut secara lebih rutin. Hal ini tentu membutuhkan pemaksaan dari diri kita sendiri.
  • ketika kita menemukan adanya “bug” dari program “kedua”, janganlah langsung menilai bahwa aplikasi “kedua” tersebut jelek/buruk/tidak sebagus “pertama”.
  • dengan sering menggunakan aplikasi-aplikasi yang beragam, secara otomatis mendidik kita untuk melihat keragaman dan juga (yang saya rasakan) lebih mudah untuk beradaptasi.

Semua aplikasi yang ada pasti ada kelemahan dan keunggulannya, jadi … mari kita belajar untuk menggunakan semua aplikasi yang tersedia (secara legal tentunya), karena itu baik adanya.

Komitmen OpenSource


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (versi online), kata komitmen memberikan pengertian:

perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu.

Dari pengalaman saya sendiri ketika mengembangkan sebuah sistem informasi berbasis komputer, hal pertama yang saya nilai adalah apakah ada komitmen dari pihak pimpinan (atau saya sebut sebagai sponsor proyek) terhadap pekerjaan tersebut. Apakah komitmen yang ada betul-betul dapat menjamin selesainya pekerjaan tersebut? Setelah itu, saya juga harus memiliki komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Artinya, untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan yang melibatkan banyak pihak, maka komitmen harus dimiliki oleh setiap pribadi yang terlibat, demikian juga organisasinya. Ini salah satu faktor terpenting untuk keberhasilan proyek TI/SI.

Demikian juga dengan penerapan OpenSource di Indonesia. Tidak hanya pemerintah saja yang harus punya komitmen, tapi juga setiap pribadi yang besedia mengambil peran di dalamnya. Komitmen ini tidak dapat setengah atau tiga perempat, tapi harus penuh. Saya percaya semangat untuk hal ini sangat besar, walaupun kendala juga besar, terutama kendala dari pribadi masing-masing. Baca lebih lanjut

Melegalkan yang tidak legal?


Gerakan OpenSource bukanlah gerakan untuk melawan, atau menentang atau menjatuhkan, tapi dengan gerakan sederhana ini kita diajak untuk mencoba saling berbagi dan terbuka, dan jangan lupa juga belajar untuk menghargai hasil karya orang lain. Terlalu klise mungkin, tapi inilah ciri gerakan OpenSource. Saya sendiri sering kali masih terjebak untuk membedakan antara produk opensource dan bukan. Sampai pada waktu, ada ungkapan bahwa “selama di dunia pendidikan, masih tidak apa-apa jika menggunakan produk yang tidak legal, yang penting bisa mengajarkan suatu penerapan konsep/teknologi kepada siswa”, artinya melegalkan produk yang tidak legal bagi pemakainya. Jika dari dunia pendidikan pendapat seperti ini terus bergulir, jangan salahkan siswa setelah lulus juga akan berusaha untuk melegalkan produk ilegal. Padahal, menurut hemat saya, ketika siswa dikenalkan bahkan dipaksa menggunakan suatu produk software untuk menangani suatu masalah, tanpa diberikan alternatif-alternatif lain atau membiarkan mahasiswa untuk memilih sendiri softwarenya asal legal, maka ketrampilan menggunakan produk tersebut pasti juga akan terbawa ketika siswa lulus dan terjun ke masyarakat.

Sebagai contoh saya sendiri. Ketika mengajar tentang pemrograman, saya menggunakan Java dengan Netbeans sebagai tool pembantu. Maka secara tidak langsung siswa saya dalam pemikirannya akan terpancang juga pada produk tersebut, walaupun Netbean dan Java juga produk OpenSource. Tapi memang dikesempatan yang lain, saya membiarkan mahasiswa untuk memilih sendiri tool yang mereka bisa, walaupun pada akhirnya sebagian besar memilih produk yang tidak legal. Contoh lain lagi yang seperti sudah “mendarah daging” adalah produk Office Suite. Sangat sulit sekali memberi pengertian untuk menggunakan produk Office Suite yang legal. Jujur saja, maaf jika menyebut nama produk, kalau disurvey dari setiap notebook yang digunakan mahasiswa, mungkin hampir 90% produk MS Office tidak legal. Sepertinya sangat tidak mungkin dipaksa untuk menggunakan OpenOffice atau yang lain yang bebas, gratis dan legal. Bagiamana bisa? Saya tidak tahu. Tapi menurut saya, salah satu faktor terbesar adalah karena mungkin tidak ada waktu untuk belajar hal baru 😀 . Saya percaya kondisi ini banyak yang mengetahui.

Contoh lain yang bisa saya ungkapkan tentang hal ini ada sebuah warnet yang mencoba mengganti komputer-komputer yang digunakan dengan Linux (Ubuntu). Setelah berjalan kurang lebih 3-4 bulan, warnet ganti kembali dengan MS Windows, dan kali ini legal karena mengikuti program lisensi dari vendor. Ketika ditanya mengapa ganti kembali ke MS Windows? Sederhana saja, karena banyak pemakai warnet hanya tahu MS Windows, belum terbiasa dengan Linux. Walaupun dari sisi fungsi dan GUI tidak ada perbedaan, hanya masalah mengubah perilaku.

Bagaimana caranya untuk bisa membantu memberi wawasan tentang legalisasi? Mungkin dapat dilakukan dengan sering mendemokan bahwa produk OSS dapat menjadi alternatif dalam setiap masalah yang akan diselesaikan. Bisa jadi juga membuat inkubator-inkubator konsultan, software house yang memberikan solusi berbasis opensource. Perlu kebijakan dari yang punya jabatan terkait tentang hal ini. Tapi memang kesadaran untuk menggunakan produk software yang legal perlu untuk terus diudarakan. Dan semua hal tersebut menuntut perubahan pola pikir dari setiap pribadi yang menggunakan, sehingga nantinya tidak ada lagi semboyan melegalkan yang tidak legal. Ini hanya pemikiran sederhana saya saja yang ingin saya bagikan.

Susahnya Penerapan OSS di kampus


Universitas atau Perguruan Tinggi sering kali menjadi acuan untuk memulai suatu gerakan baru. Tidak heran jika gerakan IGOS, misalnya, dimulai juga dengan menggandeng rekanan, terutama rekanan perguruan tinggi untuk memulainya. Mengapa Perguruan Tinggi? Karena Perguruan Tinggi merupakan tempat untuk mendidik, membangun, mendampingi setiap civitas yang bergerak di dalamnya, bahkan di luar dari civitas akademika pun dimungkinkan untuk digandeng. Suatu hal prinsip dan mendasar memang untuk memulai gerakan OSS (OpenSource Software) di Indonesia ini dari Perguruan Tinggi.

Sekarang tinggal masalahnya adalah bagaimana kebijakan dan sikap perguruan tinggi untuk menerima atau bahkan ikut dalam “gayeng”-nya gerakan IGOS. Saya sendiri dari kalangan akademis, dan sejujurnya saya tidak menggunakan distro Linux IGOS, tapi distro Fedora, dalam aktifitas sehari-hari saya. Tapi ini tidak menjadi masalah khan? 😀 . Yang menjadi tolok ukur penting dalam gerakan ini adalah bagaimana setiap civitas akademika dalam lingkungan perguruan tinggi memiliki kesadaran yang cukup tentang pemahaman terhadap hak cipta, terutama untuk produk software. Produk OSS merupakan alternatif terbaik untuk mengurangi pemakaian produk software ilegal. Bukan masalah biaya/harganya, tapi yang penting adalah kebebasan setiap orang untuk menggunakan, menyebarkan bahkan mengubahnya sesuai kebutuhan.

Menanamkan pemahaman ini, dilingkungan kampus sendiri ternyata tidaklah mudah. Banyak rekan-rekan civitas akademika yang lebih suka untuk “melegalkan” produk software yang sebetulnya “ilegal”. Ironis memang. Disatu sisi sebagai sebuah institusi pendidikan yang harus menanamkan tentang pemahaman legalitas, tapi pada kenyataannya di sisi lain masih terus terpaku pada produk tertentu dan ilegal (lagi). Ini masalah budaya dan pola fikir. Tidak lebih dari itu. Saya percaya setiap orang pasti memiliki kemampuan untuk beradaptasi, tinggal bersedia berubah atau tidak. Dan kalaupun ingin dipaksakan, maka perlu ada alternatif sebuah kurikulum yang dikembangkan berbasis pada OpenSource. Berikut sebuah skema sederhana dari pemikiran saya tentang blok skema materi kurikulum berbasis OSS untuk bidang TI, SI atau Ilkom:

Dengan bantuan APTIKOM, saya percaya gerakan IGOS dapat mulai sedikit “dipaksakan” di lingkungan PT setidaknya dimulai dari prodi TI/SI/MSI/Ilkom. Masih perlu penggodokan lagi…

Sekali lagi tentang bajak membajak


Saya bingung juga mengapa tiba-tiba menulis judul di atas untuk tulisan hari ini, padahal belum jelas juga tentang kerangkanya. Terus terang, judul itu muncul karena saya tergelitik dengan sebuah pembicaraan dengan salah seorang notaris yang tidak direncanakan membicarakan tentang HAKI. Awalnya hanya bertanya-tanya tentang perijinan, lalu rekan saya menjelaskan sedikit tentang OpenSource (saya juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba sampai ke situ…:D ). “Apa itu OpenSource?” Itulah pertanyaan pertama yang muncul. Dari situlah kami menjelaskan tentang lisensi, dan akhirnya membahas juga apakah Windows dan MS Office yang disertakan pada komputer rakitan yang beliau beli legal atau tidak. Secara singkat, saya hanya menjelaskan kalau Windows dan MS Office yang digunakan diperoleh dengan cara membeli secara sah, ya berarti legal, selain itu bisa jadi tidak legal.

Di kesempatan lain, dengan nada sendau gurau, saya coba bertanya secara sederhana ke beberapa mahasiswa tentang “belajar donk untuk tidak membajak…”. Komentar mereka menggelitik saya juga “wah pak…khan dengan membajak software kita bisa belajar dengan mudah dan murah…”. Sejujurnya saya menyetujui juga hal itu…. bagaimanapun juga memang kondisi itulah yang terjadi di kalangan masyarakat kita, entah dari bidang IT atau bukan. Saya sendiri berusaha untuk menggunakan produk-produk legal, yaitu yang freeware atau bahkan opensource, sejak 4 tahun yang lalu. Terkadang dari satu sisi, saya mengalami kesulitan, terutama ketika berhadapan dengan client. Tapi satu hal yang saya rasakan adalah, ketika saya migrasi secara total ke Linux (fedora core), hampir semua aktifitas pemakaian komputer saya menjadi lebih baik dan saya merasa lebih “bergembira” dengan kehadiran produk opensource. Bagaimana tidak, saya bisa melakukan modifikasi dengan bebas tanpa ada rasa takut untuk “dimarahi” oleh yang namanya end user licensed agreement (EULA). Saya bisa berkreasi dengan desktop GNOME saya yang sangat sangat membuat saya bergairah (silahkan baca Make my Desktop more fancy). Tapi memang untuk dapat mencapai ke kondisi ini, saya betul-betul memaksa diri saya untuk secara penuh tergantung dengan produk opensource, dan tentu saja butuh pengorbanan.

Tapi kembali ke istilah “membajak”. Saya jadi membayangkan, ketika saya menggunakan software secara ilegal, dan dikenai istilah “membajak” pada diri saya, saya merasa seperti Kapten Jack Sparrow di film Parrot of the Caribbean yang sangat jenaka, penuh intrik, tidak percaya diri, dan suka berbohong :D. Menurut saya istilah itu terlalu kejam :D. Mungkin lebih tepat di katakan saja bahwa tidak menggunakan software legal. Itu saja sudah cukup.

Terlepas dari soal bajak membajak (yang karena ada perangkat hukum yang melarang menggunakan produk ilegal karena terkait HAKI), sudah saatnya memang kita perlu belajar untuk menghargai hasil karya orang lain. Bayangkan jika ada Sillicon Valley di negara kita, seperti di India, mestinya bisa mengangkat harga diri bangsa kita ini. Tapi terkadang, praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) masih menjadi sebuah momok, seperti telur dan ayam. Yahh…setidaknya kita bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal kecil-kecil dalam kehidupan sehari-hari.