Sekali Lagi tentang Plagiarisme


Sebuah buku yang baru saja saya baca, berjudul “Plagiarisme: Pelanggaran Hak Cipta dan Etika” karangan DR. Henry Soelistyo, SH., LL.M., telah memberikan sangat banyak informasi seputar plagiarisme. Buku ini secara garis besar membahas tentang bentuk-bentuk praktek plagiarisme, dasar hukum, teknik pencegahan, serta contoh-contoh kasus plagiarisme. Ada baiknya para civitas akademika membaca buku ini.

Plagiarisme dapat dikatakan sebagai sebuah kejahatan akademik dan tindakan yang sama sekali tidak jujur. Jika boleh mengkutip dari apa yang telah disampaikan beliau, pada dasarnya dapat disebutkan beberapa tindakan yang dapat dikategorikan sebagai plagiarisme, antara lain: “menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal usulnya; meringkas dan memparafrasekan tulisan tanpa menyebutkan sumbernya; dan meringkas dan memparafrasekan kutipan dengan menyebut sumbernya tetapi rumusan kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumber yang dikutipnya” (hal 159).

Hal lain yang membuat saya tertegun adalah pembahasan tentang praktek plagiarisme oleh konsultan skripsi dan pengusaha jasa pengetikan. Beliau menekankan bahwa sebuah karya yang tidak dihasilkan oleh seseorang yang tercantum sebagai pembuat atau penulisnya, merupakan bentuk kepalsuan dan ketidakjujuran dan memiliki dimensi pelanggaran etika di dalamnya. Saya membayangkan demikian: berarti jika ada si A memesankan sebuah skripsi kepada salah satu konsultan skripsi, dan pada skripsi yang diajukan jelas-jelas mencantumkan nama si A sebagai penyusunnya, berarti si A telah melalaikan etika akademis dan tentu saja berbohong atau tidak jujur. Belum lagi indikasi adanya praktek plagiarisme dalam tulisan yang dihasilkan oleh konsultan skripsi/tesis/disertasi, yang mungkin saja ada banyak kutipan yang tidak menyebutkan sumbernya. Beliau menyebutkan istilah ‘intelektual tukang’ bagi “mereka yang memanfaatkan kebenaran ilmiah berdasarkan order atau pesanan.” (hal. 37)

Untuk dapat meminimalkan praktek plagiarisme di kalangan civitas akademika, saya tertarik dengan beberapa usulan yang beliau usulkan: perguruan tinggi sebaiknya memiliki peraturan kode etik yang disahkan oleh senat universitas; perlu adanya pernyataan tertulis bermeterai yang ditandatangani oleh mahasiswa pada karya tugas akhir/skripsi; dan secara terus menerus membangun lingkungan akademis yang menghargai karya orang lain.

Pada akhirnya, sayapun berujar dalam hati kecil saya:

Membangun sebuah budaya kejujuran diperlukan kerja keras dan kerendahan hati. Namun hasilnya akan semakin mendewasakan semua orang.