Sekilas tentang Generasi “Media Sosial”


Ketika berbicara tentang media sosial saat ini, seolah-olah kita tidak dapat terlepas dari peran teknologi Internet (web 2.0) dan piranti ponsel (yang dikatakan sebagai media ke-7 setelah cetak, rekam, sinema, radio, televisi, dan Internet). Tanpa peran kedua teknologi dasar ini, saya percaya media sosial tidak akan dapat mencapai posisi dan berpengaruh seperti sekarang ini. Lihat saja bagaimana facebook.com menduduki peringkat pertama web site yang paling banyak dikunjungi tahun 2010, mengalahkan google yang berada pada posisi ke-2 (hitwise).
Faktor lain yang memungkinkan media sosial dapat berkembang saat ini juga karena generasi saat ini sangat membutuhkan untuk dapat bergaul dimanapun dan kapanpun, termasuk diwaktu mereka bekerja. Kompas, 12 Februari 2011 (hal 33) mempublikasikan sebuah artikel pendek menarik yang menyebut sebagai generasi elektronik yang autis namun semakin sosial. Ungkapan ini tidak berbedah jauh dengan uraian dari Don Tapscott dalam bukunya “Grown Up Digital”. Don Tapscott mengelompokkan generasi pemakai dunia digital dalam 4 kelompok: babby boom (1946 – 1964), gen X (1965 – 1976), net gen / gen y (1977 – 1997), dan gen next (1998 – sekarang). Pada tiap generasi memiliki masa teknologinya masig-masing: baby boom merupakan generasi televisi, gen x merupakan generasi pemakai Internet tertua. Bagi Net gen/gen Y, teknologi bagaikan udara. Televisi bagi generasi ini bagaikan sebuah “nyanyian” latar belakang yang mengiringi aktifitas lainnya, seperti mengakses Internet. Kemampuan multitasking Gen Y ini secara otomatis tumbuh, karena memang faktor penunjang di masa pertumbuhan mereka  sangat mendukung, seperti perkembangan ponsel dan akses ke Internet yang semakin mudah. Gen Y akan lebih sering menghabiskan waktunya dengan berhubungan sosial melalui Internet, ketimbang telpon atau sms. Saat ini hampir 50% pemakai ponsel mengakses aplikasi jaringan sosial, dan angka ini akan semakin besar untuk menggantikan posisi sms dan telepon pada tahun 2015.
Sebelum adanya aplikasi media sosial, seperti my space, facebook, twitter, orkut, koprol, foursquare, dan sebagainya, gen Y sangat aktif menggunakan media online chatting dan sebagian sms untuk dapat berinteraksi dengan teman-teman lainnya. Namun sejak muncul aplikasi wikipedia (2001), blog, friendster (2002) dan facebook (2004), gen Y seperti mendapat sebuah media baru yang sangat segar untuk dapat lebih meningkatkan interaksi dan komunikasi di antara mereka. Kemudian menyusul myspace (2006) dan twitter (2006). Selain aplikasi tersebut, banyak kemudian bermunculan aplikasi jarigan sosial online serupa, belum lagi layanan berbagi lain, seperti flickr, digg, raddit, dan sebagainya. Semua teknologi dan aplikasi tersebut sangat menunjang kebutuhan sosial gen Y.
Saya, sebagai generasi X, merasakan bagaimana kemampuan beradaptasi di dunia digital sekarang ini sangat dipengaruhi oleh pola berfikir saya yang secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh masa kecil saya dahulu. Kondisi ini sangat berbeda dengan Gen Y yang memiliki bakat adaptasi yang luar biasa. Saya teringat dengan ungkapan Bill Clinton ketika di wawancari oleh Reader’s Digest Asia (diterbitkan edisi Februari 2011) “Kids [today] have something most people in history didn’t have: the ability to choose”. Saya sangat setuju dengan beliau. Pilihan-pilihan yang ditawarkan dari dunia saat ini lebih banyak dan memungkinkan Gen Y memiliki kebebasan untuk memilih sesuai dengan kesukaan mereka.
Banyaknya tawaran atau pilihan layanan/informasi ini juga memberikan dampak yang negatif jika tidak dapat diseleksi atau disikapi secara bijaksana oleh Gen Y. Banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyalah gunakan media online ini, terutama layanan jejaring sosial. Penipuan identitas, pencurian identitas, penyalahgunaan identitas banyak terjadi.
Walau demikian, para orang tua, yang mungkin berada di Gen X, tidak perlu melakukan pembatasan sedemikian rupa sehingga justru membatasi Gen Y untuk tidak “hidup” pada generasinya. Satu sisi, para orang tua perlu untuk menjadi teman, bukan sebagai pengawas. Di tempat lain, misalnya sekolah dan pekerjaan, perlu untuk membuat lingkungan yang mendukung Gen Y untuk dapat melakukan eksplorasi terhadap ide dan kreatifitas mereka, dengan arahan yang mendidik tentunya.

One thought on “Sekilas tentang Generasi “Media Sosial”

  1. Tulisan ini memberikan bukan hanya menydarkan orang tua yang beda generasi dengan anak-anaknya, namun juga mesti memahami (memasuki) pola pikir dan sepak terjang generasi anaknya – agar terkoneksi. Oh ya pak tulisan ini sudah tak copy ke ms world. Mohon diijinkan. Terima kasih

Komentar ditutup.