Perguruan tinggi


Kemarin di salah satu surat kabar nasional terpampang sebuah iklan besar terkait ucapan selamat atas dibukanya sebuah perguruan tinggi baru di Jakarta yang didirikan oleh yayasan salah satu “konglomerat” di Indonesia. Saya melihat hal ini sebagai sebuah fenomena baru, dimana beberapa perguruan tinggi swasta yang besar bermunculan dengan dukungan dana dan sumber daya dari perusahaan atau konglomerasi besar juga.

Boleh dikata, “daripada calon pegawai saya diambil dari perguruan tinggi swasta lain, mendingan buat perguruan tinggi yang dapat mempersiapkan karyawan saya lebih dini dan sesuai dengan kondisi perusahaan saya”. Saya membayangkan nantinya  akan berlaku pula hukum rimba. Siapa yang punya dana dan sumber daya yang kuat, dialah yang akan bertahan. Bagi perguruan tinggi negeri, kondisi ini tidak akan berpengaruh. Tapi bagi pertumbuhan perguruan tinggi swasta, akan sangat terasa. Calon mahasiswapun akan lebih tertarik untuk masuk ke perguruan tinggi yang sudah jelas membawa nama “konglomerasi” dengan harapan nantinya setelah lulus dapat langsung bekerja di salah satu posisi di perusahaan konglomerasi yang mendukung perguruan tinggi tersebut.

Perguruan tinggi swasta yang berdiri tanpa dukungan langsung dari konglomerasi, pada akhirnya harus berjuang untuk dapat memposisikan dirinya sebagai sebuah perguruan tinggi swasta yang memiliki keistimewaan tersendiri, selain harus memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan calon mahasiswa baru. Belum lagi memikirkan dosen dan karyawan non edukatif yang perlu untuk diberi gaji di sana.

Saya berharap, keterbukaan untuk membangun jejaring yang baik antar perguruan tinggi dan perusahaan dapat lebih terbuka dan ditingkatkan. Sekedar uneg-uneg dari saya.

One thought on “Perguruan tinggi

  1. bener pak…
    harusnya pt yg sdh ada buat network ma perusahaan yg ga bakalan mampu buat pt sehingga bisa menarik camaru karena ada ketersediaan pekerjaan..
    tapi lagi2 tergantung mhs mau belajar sungguh2 ga untuk bisa benar2 bekerja

Komentar ditutup.