To Bee or Not to Bee: Lebah yang Bosan Mencari Madu


Ketika membaca buku ini, dugaan bahwa paham yang dialirkan dalam buku ini adalah “new age” mulai terasa pada pendahuluannya “..(buku ini) adalah kisah pencarian Buzz akan Tuhan. Apa yang pada akhirnya ia temukan adalah dirinya sendiri.” Pengarang mencoba membungkus pemahaman “new age” ini dalam sebuah cerita seekor lebah jantan yang mencari Tuhan. Buzz seorang lebah yang “nyeleneh” di komunitasnya.
Pengarang mencoba menuntun pembaca tentang kemuliaan lebah (saya menangkapnya sebagai simbol manusia) dengan mengungkapkan “Agama tidak berasal dari Tuhan; tapi berasal dari para lebah”, jawab Bert. “Sebagian besar dari mereka tidak berpikir bahwa mereka bisa menemukan Tuhan sendiri, jadi mereka bergantung pada lebah yang lain untuk menunjukkan jalan kepada mereka. Masalahnya, Tuhan berada di dalam diri kita dan juga di mana-mana, dan sebagaian besar lebah kesulitan mempercayai bahwa mereka itu mulia. Jadi mereka mencari di luar mereka sendiri melalui agama atau ritual untuk mencoba memuaskan kerinduan mereka akan Tuhan.”
Nampaknya pernyataan ini telah menunjukkan bagaimana paham “new age” begitu kental dalam buku ini. Lebah beranama Bert menjadi simbol seseorang yang sudah memahami dan menerapkan paham tersebut, dan sebelum meninggal Bert memberi pesan kepada Buzz “.. Teruskanlah kepada yang lain”.
Walau demikian, ada beberapa hal yang juga membuat saya mendapat hal baru terutama berkaitan dengan kehidupan bersosial. “Bagaimanapun, ia hanyalah seekor lebah. Ia tidak akan menyelesaikan masalah dunia sendirian saja. Ia hidup dalam masyarakat yang sibuk dimana menyesuaikan diri adalah hal yang sangat penting….”
Kita tidak dapat mengubah lingkungan kita. Kita hanya dapat mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik dalam menghadapi lingkungan kita. Hal itulah yang muncul kembali di benak saya setelah membaca paragraf terakhir dari buku ini “Dan begitulah Buzz Bee memahami bahwa mereka semua memainkan peran masing-masing yang sempurna. Termasuk dirinya. Segalanya tetap sama; tidak ada yang berubah. Kecuali dirinya.”

Demikian penilaian saya terhadap buku ini.