Pembelian Software


Ini yang saya alami terakhir ini. Ketika membeli sebuah notebook, saya mempertimbangkan untuk membeli yang berlabel tanpa sistem operasi (NO OS) dengan harga yang lebih murah. Bayangan saya, setelah ini saya akan memasang Ubuntu sebagai sistem operasinya, sehingga tetap tidak mengeluarkan biaya lagi. Tapi setelah berjalan kurang lebih seminggu, masalah muncul karena istri saya tidak terbiasa menggunakan Ubuntu (walaupun dia tetap ingin belajar Ubuntu). Tapi karena kondisi ini menghambat sedikit banyak pekerjaannya, akhirnya muncul pertimbangan apakah membeli Windows Vista OEM atau tidak?

Nah, di sinilah letak perbedaan yang dapat saya amati. Muncul banyak pertimbangan yang beragam ketika harus memutuskan harus membeli Windows dengan harga Rp 855.000,00. Mengapa harus banyak pertimbangan muncul? Padahal kalau seandainya saja membeli notebook yang sudah di-bundle dengan Windows Vista, kita merasa tidak masalah, maksudnya tidak muncul pertimbangan-pertimbangan seperti yang saya alami ini. Akhirnya diputuskan untuk tetap membeli Windows, dengan catatan semua aplikasi lainnya harus freeware atau opensource.

Yang menjadi catatan saya di sini adalah ternyata ada faktor psikis yang mempengaruhi ketika harus membeli software legal tersendiri. Saya memahaminya karena ada pertimbangan bahwa ada software lain yang serupa tapi gratis/legal (linux/opensolaris), dan ada juga software lain sejenis yang tidak legal (alias membajak). Mungkin ini yang menjadi faktor yang berpengaruh. Lain memang jika membeli sebuah notebook dengan harga yang sudah termasuk Windows, tidak ada faktor tekanan psikis di sini.

Beginilah bentuk perjuangan untuk mengubah budaya juga…..terus berjalan, tapi harus bertahap.

One thought on “Pembelian Software

Komentar ditutup.