Internet adalah jejaring sosial manusia


Hampir 10 hari ini saya cuti, lepas dari dunia IT, karena memang saya ingin untuk sedikit melepas kejenuhan. Hari ini saya mulai kembali untuk masuk ke pekerjaan saya sehari-hari. Selama ber-cuti ini saya juga sambil membaca buku baru, walaupun baru selesai bab 1. Judul buku ini adalah “Wikinomics” karangan Don Tapscott, yang juga merupakan pengarang Digital Economy (pernah terbaca sewaktu mahasiswa). Saya hanya ingin mencuplik sebuah kalimat menarik dari buku tersebut:

..peer production is a very social activity. All one needs is a computer, a network connection, and a bright spark of initiative and creativity to join in the economy.

Teknologi Informasi merupakan teknologi yang dapat diterima oleh siapa saja. Bahkan, TI tidak memandang profesi ataupun profile atau usia pemakainya. Luar biasa! Dan jujur saja setelah membaca buku “The Search” dan “The World is Flat” (masih belum selesai juga…) dan terakhir dengan “Wikinomics” semakin membuka wawasan saya tentang arti sebenarnya dari Internet. Saya harus melihat bahwa Internet bukan lagi sekedar alat bantu atau sebuah jaringan komputer besar, tapi Internet adalah suatu jaringan komunitas sosial yang global, tanpa pandang usia, ras, agama, jenis kelamin, atau apapun.

Jika di awal munculnya kata Internet lebih mengarah ke arti infrastruktur, sekarang saya melihatnya lebih luas lagi. Rasanya seperti saya sedang menggunakan kaca pembesar, dimana dulu di awal-awal belajar tentang Internet saya hanya terfokus pada infrastruktur, termasuk protokolnya. Tapi sekarang begitu kaca pembesar ini saya jauhkan, saya melihat sebuah nuansa yang sedikit berbeda dan lebih luas lagi, yaitu Internet sebagai sebuah jejarin sosial manusia. Kekuatan nuansa ini semakin terlibat ketika konsep Web Semantic atau Web 2.0 (dari O’reilly) muncul dan banyak diimplementasikan. Dengan Web 2.0 ini penekanan untuk interaksi dengan pemakai untuk memberikan kebebasan dalam berekspresi dan berinteraksi semakin memperkuat definisi jejarin sosial manusia.

Jika kita selalu bicara “menyongsong era globalisasi”, tanpa disadari dengan Web 2.0, kita sudah masuk ke globalisasi. Bukan untuk menggombalisasi terhadap kebebasan ini. Ambil contoh saja bagaimana layanan sosial seperti Facebook, Wikipedia, MySpace, Amazon, friendster, flickr, youtube dan sejenisnya mencoba untuk mendongkrak pertumbuhan jejaring sosial manusia. Sangat mudah kita dapat menyatakan teman kita dari seluruh dunia ini tanpa batas adanya passport ataupun visa. Lihat saja bagaimana perilaku untuk membeli barang. Amazon dan eBay menjadi sebuah milestone yang sangat mempengaruhi bagaimana globalisasi sudah terbentuk.

Makanya tidak heran, jika banyak pakar-pakar di bidang manajemen, pemasaran dan bidang ekonomi lainnya mencoba melihat fenomena ini. Hal ini terbukti dengan bermunculan buku-buku yang menonjolkan konsep bersosial secara terbuka di Internet yang merupakan sebuah kekuatan baru dalam hal apa saja.

Melihat hal ini, saya menyadari juga bahwa saya sendiri tidak  mungkin hanya melulu fokus di hal-hal teknis. Saya sendiri perlu untuk melihat secara lebih luas agar sayapun dapat masuk ke dalam fenomena jejaring sosial baru yang sangat besar dan kuat ini.

2 thoughts on “Internet adalah jejaring sosial manusia

  1. Ho oh, makane aku pasang internet di rumah.. Tanpa ini, susah kalo mau mendalami sesuatu..

    Wah, menang nih buddyminer nya!! hahaha!
    Makan2 lo jangan lupa… :p

  2. Internet memang sarasan untuk bersosial dengan luas tanpa batas…

    Saya bertemu dengan berbagai orang lewat Multiply.com

    ada yang dari Kalimantan, dia share bagaimana kehidupan di sana, dan dari Sumatera juga, bahkan sampai orang indo yang belajar di luar negeri. tanpa harus keluar biaya untuk angkot berjalan ke sana ke mari, saya hanya butuh duduk diam dan kelihaian jari saya memainkan mouse😀

Komentar ditutup.