Berbuat curang…


Satu lagi ada sebuah buku yang sudah cukup lama, terbit tahun 2005 (edisi Indonesia terbit tahun 2006), yang berjudul “Freakonomics”, memberikan suatu sudut pandang yang berbeda dalam melihat data-data perekenomian yang ada kepada kita, terutama saya.

Karena penulis adalah warga Amerika, maka banyak studi kasus yang diungkapkan juga berasal dari sana. Pasti rekan-rekan sudah mengetahui tentang buku ini. Kebetulan saya sedang mulai membaca buku ini (edisi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Jakarta). Pada bab satu ada sebuah ungkapan yang sangat menarik bagi saya:

Berbuat curang merupakan tindakan ekonomi yang primordial (paling dasar – KBBI); ingin memperoleh lebih dengan pengorbanan sedikit.

Kalimat tersebut membuat saya merenung. Apakah dalam setiap kegiatan kita tanpa disadari juga banyak berbuat curang? Mungkin kita katakan curang “kecil” dan curang “besar”😀 Dasar ungkapan tersebut adalah berasal dari kasus insentif. Saya coba membuat kalimat sendiri di sini dari yang saya pahami. Ketika kita memberikan suatu aturan dalam suatu layanan atau mekanisme kerja yang di dalamnya terdapat suatu insentif, untuk alasan baik ataupun tidak, pasti ada suatu usaha yang ingin mematuhi aturan tersebut dan ada juga yang “berusaha cerdik” dengan berbuat “curang” untuk mengelabuhinya. Sebagai contoh sederhana saja dalam sistem absensi pegawai. Ada aturan bahwa datang terlambat 5 kali dalam sebulan akan diberikan sangsi pemotongan gaji. Insentif di sini adalah pemotongan gaji karena melanggar aturan. Dari kondisi ini, ada karyawan yang berusaha untuk tidak terlambat, tapi ada juga yang berusaha untuk mengelabuhinya. Lalu apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif pengganti insentif tersebut?

Jadi… dalam buku tersebut dikatakan juga:

…Denda menggantikan insentif ekonomi (contoh di atas) dengan insentif moral.

…sebagaimana pernah dikatakan W.C Fields: “Sesuatu yang bernilai untuk dimiliki adalah sesuatu yang bernilai untuk dicurangi.

Insentif moral mungkin dapat diterapkan. (Merenung…..)