Komitmen OpenSource


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (versi online), kata komitmen memberikan pengertian:

perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu.

Dari pengalaman saya sendiri ketika mengembangkan sebuah sistem informasi berbasis komputer, hal pertama yang saya nilai adalah apakah ada komitmen dari pihak pimpinan (atau saya sebut sebagai sponsor proyek) terhadap pekerjaan tersebut. Apakah komitmen yang ada betul-betul dapat menjamin selesainya pekerjaan tersebut? Setelah itu, saya juga harus memiliki komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Artinya, untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan yang melibatkan banyak pihak, maka komitmen harus dimiliki oleh setiap pribadi yang terlibat, demikian juga organisasinya. Ini salah satu faktor terpenting untuk keberhasilan proyek TI/SI.

Demikian juga dengan penerapan OpenSource di Indonesia. Tidak hanya pemerintah saja yang harus punya komitmen, tapi juga setiap pribadi yang besedia mengambil peran di dalamnya. Komitmen ini tidak dapat setengah atau tiga perempat, tapi harus penuh. Saya percaya semangat untuk hal ini sangat besar, walaupun kendala juga besar, terutama kendala dari pribadi masing-masing.

Yang jelas adalah kita tidak mungkin memaksakan, tapi yang harus dilakukan adalah selalu memberikan wawasan dan pengertian yang terus menerus. Dunia pendidikan adalah tempat habitat yang sangat baik untuk memberikan suasana “demokrasi” teknologi informasi seperti ini. Walau terkadang, jujur saja, secara pribadi ingin juga memaksa untuk menggunakan produk OpenSource. Ketika sadar bahwa produk OpenSource perlu dipertimbangkan, karena sudah merasakan manfaatnya, maka dorongan untuk menggunakannyapun harus terus dipelihara. Saya teringat ketika Linux pertama kali gencar di promosikan di Indonesia, waktu itu saya berkesempatan dapat berbagi di lingkungan kecil kampus saya sekitar tahun 1997. Tapi karena gerakan promosi ini belum mengena pada sasarannya, akhirnya promosi ini berhenti pada “jualan jamu”, hanya teman-teman yang menjadi administrator saja yang terus menggulirkan gerakan OpenSource ini. Maklum saja, produk OpenSource saat itu betul-betul baru, dan terkesan masih sangat sulit digunakan.

Tapi sekarang, produk OpenSource boleh di katakan tidak kalah dengan produk proprietary lainnya, bahkan dalam beberapa hal produk OpenSource lebih diunggulkan daripada produk sejenis yang proprietary. Sehingga harusnya kesempatan untuk terus menggulirkan pemakaian produk OpenSource menjadi lebih terbuka. Terkadang memang perlu pemaksaan, dan lebih baik hal itu dilakukan di lingkungan internal organisasi/perusahaan. Setelah fase pemakaian produk OpenSource dapat diterima, maka fase berikutnya yang harus dilanjutkan adalah fase peran serta dalam komunitas-komunitas produk-produk OpenSouce yang kita gunakan. Hal ini penting, karena membangun produk berbasis pada komunitas bukanlah pekerjaan yang mudah. Ada yang mengatakan hampir 50% proses pengembangan produk OpenSource dilakukan oleh pengembang inti, dan dari 1000 pemakai sebuah produk OpenSource, hanya ada 10 yang berperan memberikan informasi bug (kesalahan sistem), dan hanya 1 yang terlibat dalam pemberian patches (pembetulan). Sehingga sangat perlu kita juga menumbuhkan semangat untuk terlibat dalam pengembangan produk OpenSource yang kita gunakan.

Saya percaya, jika komitmen untuk menggunakan produk OpenSource terus ditumbuhkan, pada suatu saat nanti, kita dapat melihat suatu perubahan yang sangat besar di industri perangkat lunak di negara kita ini. Saya selalu mengagumi Eropa yang tetap bersemangat untuk mendukung gerakan OpenSource, sehingga dapat memberikan “perlawanan” terhadap penguasaan pasar dari vendor-vendor proprietary.

4 thoughts on “Komitmen OpenSource

Komentar ditutup.