Pentingkah sertifikasi (lagi)?


Hari ini saya mendapat kenalan baru, seorang pengajar tetap di Oracle Education Indonesia. Kami banyak berdiskusi, terutama tentang pekerjaan. Yang ingin saya catat di sini adalah sedikit diskusi tentang lulusan TI dan lapangan pekerjaan. Dia lulus S1 dari Gunadarma Jakarta, lalu melanjutkan S2 di Ilkom UI. Hal menarik yang dia ceritakan adalah, setelah lulus S2, dan mencoba melamar di salah satu perusahaan IT terkemuka, dari bagian HR sudah mengatakan “Kami tidak memperhatikan apakah kamu lulus S1 atau S2, karena kami tidak mampu memberi gaji yang lebih tinggi untuk S2. Yang penting adalah kemampuan Anda”. Nah lho…koq…

Kemudian saya bertanya, “Bagaimana dengan sertifikasi profesional? Betul-betul terpakai tidak?”. Dia memberi gambaran bahwa bagian HR akan lebih mempercayai kita jika kita juga menyodorkan sertifikasi profesional. Misalnya saja kita mengatakan “Saya bisa menjadi database administrator Oracle 10g”, tapi jika kita tidak memiliki sertifikasi OCA/OCP, pihak perusahaan tentu tidak percaya, dan efek sampingnya adalah mempengaruhi tawar menawar gaji kita. Alasan yang paling kuat disampaikan oleh pihak HR mengenai hal ini adalah “Kami nanti harus mentrainingkan Anda juga, jadi kami tidak dapat memberikan gaji yang lebih tinggi dari sekian..”. Saya berujar, “Kalau menunjukkan sertifikat bahwa pernah ikut pelatihan profesional?” Dia berpendapat sama saja, pihak perusahaan tidak akan mempercayai. Tapi memang akan lebih baik jika memiliki sertifikat resmi dari vendor bahwa kita pernah mengikuti training.

Ini sebuah tuntutan bagi para pekerja TI sekarang, dan tentu saja ini sangat tergantung pada kasus, tidak semua seperti yang saya tulis di sini, tapi … alahkan lebih baik memang jika setidaknya selama di bangku kuliah S1 TI, Anda sebagai mahasiswa membekali dengan pelatihan-pelatihan profesional dari vendor. Hanya saran saja…