Perlukah Sertifikasi?


Apa yang dimaksud sertifikasi di sini? Yang saya maksudkan adalah sebuah “tanda” atau “pernyataan” yang dikeluarkan oleh sebuah organisasi independent atau vendor tertentu kepada seseorang yang telah “lolos” dari suatu bentuk ujian terkait dengan suatu topik atau teknologi/produk tertentu. Sebagian besar sertifikasi sekarang ini terlaksana dengan memanfaatkan Internet sebagai “tempat” dan media ujian. Ketika saya mencoba “mencicipi” ujian sertifikasi Oracle, rasanya memang berbeda dengan ujian-ujian yang dilakukan seperti pada ujian semester sewaktu di kuliah. Salah satu hal yang membuat lebih tegang adalah “waduh kalau tidak lulus bagaimana, padahal sudah bayar mahal..”. Ya..bayangkan saja, untuk mengambil sebuah ujian sertifikasi internasional mungkin kita di-charge sebesar antara US$ 75 – US $200 (perlu saya lihat lagi..ada masukan?). Kalau tidak lulus, uang itu akan melayang…

Saya terkagum-kagum dengan India. Ketika membaca buku “The World is Flat” edisi 3.0 (yang sampai sekarang belum selesai juga) semakin membuka mata saya bahwa betapa kecilnya kemampuan saya ini. Walaupun sekarang terjadi pergeseran dalam pemakaian tenaga kerja, dari India kemudian ke China dan juga negara-negara kecil di Eropa dan Rusia (Indonesia belum dilirik😀 ), tapi negara India ini berhasil menarik minat investor TI Amerika. Dengan masuknya vendor-vendor Amerika masuk ke India mengakibatkan secara tidak langsung kebutuhan untuk tenaga-tenaga bersertifikasi internasional juga semakin banyak. Tidak heran jika pelatihan-pelatihan profesional dari vendor banyak di minati di India, dan sekarang tidak terkecuali di China.

Walau demikian, ujian sertifikasi internasional dari vendor-vendor atau organisasi independen juga memiliki beberapa kelemahan. Saya tertarik dengan tulisan Warren Wyrostek yang bertajuk “The Top 10 Problems with IT Certification in 2008“. Walaupun beliau menyebutkan banyak kelemahan terhadap ujian sertifikasi, tapi beliau tetap mengatakan “I would not give up on certification.” (cek juga top 10 Certification 2006)

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah sertifikasi tersebut diakui keberadaannya, terutama di Indonesia? Saya mendengar dan saya melihat daftar gaji di negara tetangga kita ternyata memang sudah membedakan antara yang tidak bersertifikat dengan yang bersertifikat, terutama yang internasional. Artinya memang ada perhargaan tersendiri bagi semua profesional yang sudah bersusah payah untuk menguji dirinya dengan yang tidak. Kalau di Indonesia, harusnya juga demikian. Mungkin di beberapa perusahaan/organisasi yang sudah multi nasional atau internasional dapat dipastikan akan mengacu juga pada standard gaji “de facto” untuk yang bersertifikat dan yang tidak. Sementara itu, sudah ada badan “independent” di Indonesia yang mencoba menawarkan ujian sertifikasi TI untuk skala nasional, yang kita kenal dengan nama LSP Telematika. Ceritanya dengan adanya ujian sertifikasi TI nasional ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi perusahaan/organisasi di Indonesia saat penerimaan karyawan baru (atau untuk kepentingan lain). Harga yang ditawarkanpun jauh lebih murah daripada sertifikasi internasional. Kalau dilihat dari materi yang diujikan, saya sendiri melihat sertifikasi nasional ini mencoba untuk menampung dari semua vendor-vendor TI terkemuka di Indonesia ini, yang notabene juga hampir semuanya berasal dari luar, bukan dari dalam.

Apakah sertifikasi nasional ini diakui secara internasional? Belum…masih jauh! Sehingga jika ada seorang lulusan TI ingin bekerja di luar negeri, maka setidaknya bisa kita duga akan mengambil sertifikasi internasional, entah dari vendor ataupun organisasi ujian lainnya. Sekarang yang perlu kita gali informasinya adalah seberapa jauh sertifikasi nasional ini telah diterima di perusahaan atau organisasi dalam negeri? Jika pada kenyataannya bahwa sertifikasi vendor internasional lebih dihargai daripada sertifikasi nasional, maka pemilihan ujian sertifikasi juga akan menentukan.

Tapi seandainya nanti, dari pemerintah kita melalui Departemen Pendidikan, mewajibkan ujian sertifikasi untuk semua profesional TI di Indonesia, termasuk dosennya, ya..akhirnya mau tidak mau ya harus ambil ujian sertifikasi TI nasional ini, karena kondisi terpaksa😀 . Tapi memang, menurut hemat saya, alangkah baiknya untuk rekan-rekan yang berkecimpung di dunia TI ini mengambil atau pernah merasakan ujian sertifikasi ini. Suatu saat nanti akan dibutuhkan. Silahkan berkunjung ke CertMag.com untuk mengenal sertifikasi lebih jauh.

3 thoughts on “Perlukah Sertifikasi?

  1. Menurutku sertifikasi itu perlu. Meskipun bukan berarti orang yang tidak bersertifikasi nggak jagoan. Pihak industri tentu butuh standar kemampuan untuk merekrut pegawainya. Tapi di lain pihak urusan sertifikasi ini adalah bisnis dari vendor juga yang nilainya tidak kecil. Jadi kapan saya bisa sertifikasi OCA mas😀

Komentar ditutup.