Nasib programmer di negara kita…


Dari beberapa kali diskusi dengan temen-temen yang bekerja sebagai programmer, baik sebagai freelance, kerja di software house (dari kelas kecil, menengah, sampai kelas kakap), ataupun kerja di perusahaan yang core business nya bukan IT. Dari hasil diskusi singkat, ada yang berpendapat yang sedikit membuat saya agak “menangis” juga: “Jadi programmer itu seperti, maaf, seperti seorang kacung yang harus mengerjakan apa yang diperintahkan”. Ada yang lain berkomentar “kerjanya sudah sulit, tapi gaji tidak sepadan”.

Ada cerita menarik, seorang teman setelah lulus S1 TI, kerja di sebuah software house, kemudian dia ditempatkan di salah satu clientnya. Cerita sedih di mulai dari sini, teman saya ini sampai tidak diijinkan makan siang karena modul yang sedang dikerjakan belum selesai juga, sampai ditungguin sama si client. Baru setelah jam 3 sore, teman saya ini diijinkan untuk makan siang. Gile bener…sedemikian burukkah gambaran pekerjaan programmer di negara kita ini?

Ini sepengetahuan saya saja, kira-kira gaji per bulan untuk fresh graduate S1 TI adalah 1.5 – 2 jt untuk 3-6 bulan pertama, tapi memang tidak jarang para buruh TI ini diberi pekerjaan yang cukup banyak dengan tenggat waktu yang cukup “mepet”. Jadi tidak heran jika beberapa (mungkin sebagian besar) pekerja TI, terutama programmer mengeluh dengan kondisi ini. Mungkin juga bukan karena gaji, tapi mungkin karena para pekerja muda TI kita tidak siap dengan kondisi under pressure ..mungkin! Perlu di survey tersendiri tentang kondisi ini.

Tapi kondisi ini berbeda memang dengan negeri seberang, katakan Singapore, Thailand ataupun Malaysia, dimana gaji yang ditawarkan lebih baik. Apakah perlu adanya kebijakan dari pemerintah untuk memberikan standar gaji untuk perbaikan penghargaan bagi pekerja TI? Jadi mungkin, kondisi ini dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan terkait dengan keterlibatan para profesional TI untuk gerakan OpenSource di negara kita ini. Jujur saja, keterlibatan dari para programmer atau komunitas dari gerakan OpenSource di negara kita ini masih “baru” dimulai dari akademis. Dari profesional muda TI sendiri, mereka masih sibuk untuk mencari nafkah yang cukup dapat dijadikan sebagai pendapatan tetap yang “memadai”. Bagaimana baiknya ya? Hmm….keep in wondering! Hope that this condition become better..

4 thoughts on “Nasib programmer di negara kita…

  1. Di indo mah damn pak!! negara ini dah kacau! saya lebih milih kerja di luar negeri daripada di sini..!😀
    Tapi ak salut sama om Frans Thamura, yang mau mbangun negeri ini dengan Java dan ga lari..

    Ayo pak, hidup openSource!🙂

  2. Saya rasa “the true value of computer software” belum terlalu diperhatikan di Indonesia. IT nya sih dah lumayan tapi “penghargaan” untuk “peoples who makes it happen” ??? –well u know…

    OSS 4 life😉

    ps: nice blog anyway. keep up the good work.

Komentar ditutup.