Melegalkan yang tidak legal?


Gerakan OpenSource bukanlah gerakan untuk melawan, atau menentang atau menjatuhkan, tapi dengan gerakan sederhana ini kita diajak untuk mencoba saling berbagi dan terbuka, dan jangan lupa juga belajar untuk menghargai hasil karya orang lain. Terlalu klise mungkin, tapi inilah ciri gerakan OpenSource. Saya sendiri sering kali masih terjebak untuk membedakan antara produk opensource dan bukan. Sampai pada waktu, ada ungkapan bahwa “selama di dunia pendidikan, masih tidak apa-apa jika menggunakan produk yang tidak legal, yang penting bisa mengajarkan suatu penerapan konsep/teknologi kepada siswa”, artinya melegalkan produk yang tidak legal bagi pemakainya. Jika dari dunia pendidikan pendapat seperti ini terus bergulir, jangan salahkan siswa setelah lulus juga akan berusaha untuk melegalkan produk ilegal. Padahal, menurut hemat saya, ketika siswa dikenalkan bahkan dipaksa menggunakan suatu produk software untuk menangani suatu masalah, tanpa diberikan alternatif-alternatif lain atau membiarkan mahasiswa untuk memilih sendiri softwarenya asal legal, maka ketrampilan menggunakan produk tersebut pasti juga akan terbawa ketika siswa lulus dan terjun ke masyarakat.

Sebagai contoh saya sendiri. Ketika mengajar tentang pemrograman, saya menggunakan Java dengan Netbeans sebagai tool pembantu. Maka secara tidak langsung siswa saya dalam pemikirannya akan terpancang juga pada produk tersebut, walaupun Netbean dan Java juga produk OpenSource. Tapi memang dikesempatan yang lain, saya membiarkan mahasiswa untuk memilih sendiri tool yang mereka bisa, walaupun pada akhirnya sebagian besar memilih produk yang tidak legal. Contoh lain lagi yang seperti sudah “mendarah daging” adalah produk Office Suite. Sangat sulit sekali memberi pengertian untuk menggunakan produk Office Suite yang legal. Jujur saja, maaf jika menyebut nama produk, kalau disurvey dari setiap notebook yang digunakan mahasiswa, mungkin hampir 90% produk MS Office tidak legal. Sepertinya sangat tidak mungkin dipaksa untuk menggunakan OpenOffice atau yang lain yang bebas, gratis dan legal. Bagiamana bisa? Saya tidak tahu. Tapi menurut saya, salah satu faktor terbesar adalah karena mungkin tidak ada waktu untuk belajar hal baru😀 . Saya percaya kondisi ini banyak yang mengetahui.

Contoh lain yang bisa saya ungkapkan tentang hal ini ada sebuah warnet yang mencoba mengganti komputer-komputer yang digunakan dengan Linux (Ubuntu). Setelah berjalan kurang lebih 3-4 bulan, warnet ganti kembali dengan MS Windows, dan kali ini legal karena mengikuti program lisensi dari vendor. Ketika ditanya mengapa ganti kembali ke MS Windows? Sederhana saja, karena banyak pemakai warnet hanya tahu MS Windows, belum terbiasa dengan Linux. Walaupun dari sisi fungsi dan GUI tidak ada perbedaan, hanya masalah mengubah perilaku.

Bagaimana caranya untuk bisa membantu memberi wawasan tentang legalisasi? Mungkin dapat dilakukan dengan sering mendemokan bahwa produk OSS dapat menjadi alternatif dalam setiap masalah yang akan diselesaikan. Bisa jadi juga membuat inkubator-inkubator konsultan, software house yang memberikan solusi berbasis opensource. Perlu kebijakan dari yang punya jabatan terkait tentang hal ini. Tapi memang kesadaran untuk menggunakan produk software yang legal perlu untuk terus diudarakan. Dan semua hal tersebut menuntut perubahan pola pikir dari setiap pribadi yang menggunakan, sehingga nantinya tidak ada lagi semboyan melegalkan yang tidak legal. Ini hanya pemikiran sederhana saya saja yang ingin saya bagikan.