Susahnya Penerapan OSS di kampus


Universitas atau Perguruan Tinggi sering kali menjadi acuan untuk memulai suatu gerakan baru. Tidak heran jika gerakan IGOS, misalnya, dimulai juga dengan menggandeng rekanan, terutama rekanan perguruan tinggi untuk memulainya. Mengapa Perguruan Tinggi? Karena Perguruan Tinggi merupakan tempat untuk mendidik, membangun, mendampingi setiap civitas yang bergerak di dalamnya, bahkan di luar dari civitas akademika pun dimungkinkan untuk digandeng. Suatu hal prinsip dan mendasar memang untuk memulai gerakan OSS (OpenSource Software) di Indonesia ini dari Perguruan Tinggi.

Sekarang tinggal masalahnya adalah bagaimana kebijakan dan sikap perguruan tinggi untuk menerima atau bahkan ikut dalam “gayeng”-nya gerakan IGOS. Saya sendiri dari kalangan akademis, dan sejujurnya saya tidak menggunakan distro Linux IGOS, tapi distro Fedora, dalam aktifitas sehari-hari saya. Tapi ini tidak menjadi masalah khan?😀 . Yang menjadi tolok ukur penting dalam gerakan ini adalah bagaimana setiap civitas akademika dalam lingkungan perguruan tinggi memiliki kesadaran yang cukup tentang pemahaman terhadap hak cipta, terutama untuk produk software. Produk OSS merupakan alternatif terbaik untuk mengurangi pemakaian produk software ilegal. Bukan masalah biaya/harganya, tapi yang penting adalah kebebasan setiap orang untuk menggunakan, menyebarkan bahkan mengubahnya sesuai kebutuhan.

Menanamkan pemahaman ini, dilingkungan kampus sendiri ternyata tidaklah mudah. Banyak rekan-rekan civitas akademika yang lebih suka untuk “melegalkan” produk software yang sebetulnya “ilegal”. Ironis memang. Disatu sisi sebagai sebuah institusi pendidikan yang harus menanamkan tentang pemahaman legalitas, tapi pada kenyataannya di sisi lain masih terus terpaku pada produk tertentu dan ilegal (lagi). Ini masalah budaya dan pola fikir. Tidak lebih dari itu. Saya percaya setiap orang pasti memiliki kemampuan untuk beradaptasi, tinggal bersedia berubah atau tidak. Dan kalaupun ingin dipaksakan, maka perlu ada alternatif sebuah kurikulum yang dikembangkan berbasis pada OpenSource. Berikut sebuah skema sederhana dari pemikiran saya tentang blok skema materi kurikulum berbasis OSS untuk bidang TI, SI atau Ilkom:

Dengan bantuan APTIKOM, saya percaya gerakan IGOS dapat mulai sedikit “dipaksakan” di lingkungan PT setidaknya dimulai dari prodi TI/SI/MSI/Ilkom. Masih perlu penggodokan lagi…

One thought on “Susahnya Penerapan OSS di kampus

Komentar ditutup.