Bayangan Sebuah Proxy “Pintar”


Sejak diberlakukannya, bahkan sebelumnya juga, Undang-Undang ITE di negara kita ini, banyak sekali komentar, pendapat, ide-ide lain yang muncul di blog. Blog telah terbukti menjadi sebuah media yang luar biasa pesat pertumbuhannya. Salah satu yang juga banyak dikomentari adalah pemblokiran situs-situs pornografi dan situs-situs yang mengandung SARA. Lalu kemudian pemerintah kita, melalui departemen KOMINFO, menjanjikan sebuah alat bantu berupa perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memblok akses ke situs-situs “terlarang” tersebut. Bayangan yang ada dibenak saya, bisa jadi salah, alat bantu ini nantinya akan memiliki sebuah basisdata yang berisi semua URL-URL yang dinyatakan sebagai situs terlarang (sampai ke level dokumennya mungkin). Seperti sebuah alat bantu antivirus, basisdata untuk alat bantu penyaring atau pemblokir ini akan selalu di update dan dapat diunduh secara bebas oleh masyarakat. Hmm… masalahnya apakah semua elemen masyarakat kita menyetujui URL-URL yang dianggap “terlarang” tersebut? Apakah tidak mungkin jika alat bantu ini juga dapat menerapkan sebuah “profiling” sesuai dengan kebutuhan pemakainya? Dengan gambaran dibenak saya tersebut, saya ingin menyampaikan ide sederhana, dan mungkin juga ide ini sudah ada yang memunculkan. Kalaupun sudah ada, tidak berarti saya menjiplak lho… ini original dari pergumulan saya saja.

Sebenarnya kita bisa menerapkan metode klasifikasi Text Mining untuk membuat sebuah penyaring/pemblokir “pintar” yang secara otomatis dapat “belajar” sendiri. Idenya, ketika seorang user mengakses sebuah URL dari sebuah jaringan yang digunakannya, pada gateway yang dituju di pasang program ini yang akan berkoordinasi dengan proxy server. Untuk setiap halaman yang akan diperoleh pemakai, diuji terlebih oleh alat penyaring “pintar” ini untuk dipelajari. Jika ternyata termasuk kategori “terlarang” maka akan dikembalikan sebuah pesan HTML ke browser si peminta bahwa dokumen yang diminta termasuk “terlarang”. Ketika ditemukan sebuah dokumen “terlarang” baru, secara otomatis alat bantu ini akan mencatat pada basisdatanya. Konsepnya seperti sebuah spam filtering seperti yang diterapkan oleh gmail (bagus sekali), yahoo mail (walaupun kurang begitu bagus) atau spamassasin, dan sebagainya. Oleh karena alat bantu ini dipasang di server, maka pada komputer pemakai tidak perlu repot-repot di pasang program penyaring/pemblokir. Oleh karena alat bantu ini harus dapat melayani jutaan dokumen yang diminta dari pemakai, maka perlu dipikirkan juga kemampuan multithreading yang mapan dan juga pengalokasian memori yang baik. Sehingga bahasa pemrograman yang cukup mumpuni untuk hal ini adalah bahasa C/C++, dan mungkin juga bahasa script sudah mampu. Dugaan saya mungkin akan berpengaruh pada kinerja server. Tapi setidaknya perlu di coba. Bisa ndak ya saya mengajukan proposal ke kominfo untuk penelitian ini?😀 Atau mungkin bisa dijadikan sebagai sebuah proyek OpenSource di Indonesia untuk membangun sendiri proxy versi Indonesia. Who knows… Ada pendapat lain?…..