Sekali lagi tentang bajak membajak


Saya bingung juga mengapa tiba-tiba menulis judul di atas untuk tulisan hari ini, padahal belum jelas juga tentang kerangkanya. Terus terang, judul itu muncul karena saya tergelitik dengan sebuah pembicaraan dengan salah seorang notaris yang tidak direncanakan membicarakan tentang HAKI. Awalnya hanya bertanya-tanya tentang perijinan, lalu rekan saya menjelaskan sedikit tentang OpenSource (saya juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba sampai ke situ…:D ). “Apa itu OpenSource?” Itulah pertanyaan pertama yang muncul. Dari situlah kami menjelaskan tentang lisensi, dan akhirnya membahas juga apakah Windows dan MS Office yang disertakan pada komputer rakitan yang beliau beli legal atau tidak. Secara singkat, saya hanya menjelaskan kalau Windows dan MS Office yang digunakan diperoleh dengan cara membeli secara sah, ya berarti legal, selain itu bisa jadi tidak legal.

Di kesempatan lain, dengan nada sendau gurau, saya coba bertanya secara sederhana ke beberapa mahasiswa tentang “belajar donk untuk tidak membajak…”. Komentar mereka menggelitik saya juga “wah pak…khan dengan membajak software kita bisa belajar dengan mudah dan murah…”. Sejujurnya saya menyetujui juga hal itu…. bagaimanapun juga memang kondisi itulah yang terjadi di kalangan masyarakat kita, entah dari bidang IT atau bukan. Saya sendiri berusaha untuk menggunakan produk-produk legal, yaitu yang freeware atau bahkan opensource, sejak 4 tahun yang lalu. Terkadang dari satu sisi, saya mengalami kesulitan, terutama ketika berhadapan dengan client. Tapi satu hal yang saya rasakan adalah, ketika saya migrasi secara total ke Linux (fedora core), hampir semua aktifitas pemakaian komputer saya menjadi lebih baik dan saya merasa lebih “bergembira” dengan kehadiran produk opensource. Bagaimana tidak, saya bisa melakukan modifikasi dengan bebas tanpa ada rasa takut untuk “dimarahi” oleh yang namanya end user licensed agreement (EULA). Saya bisa berkreasi dengan desktop GNOME saya yang sangat sangat membuat saya bergairah (silahkan baca Make my Desktop more fancy). Tapi memang untuk dapat mencapai ke kondisi ini, saya betul-betul memaksa diri saya untuk secara penuh tergantung dengan produk opensource, dan tentu saja butuh pengorbanan.

Tapi kembali ke istilah “membajak”. Saya jadi membayangkan, ketika saya menggunakan software secara ilegal, dan dikenai istilah “membajak” pada diri saya, saya merasa seperti Kapten Jack Sparrow di film Parrot of the Caribbean yang sangat jenaka, penuh intrik, tidak percaya diri, dan suka berbohong😀. Menurut saya istilah itu terlalu kejam😀. Mungkin lebih tepat di katakan saja bahwa tidak menggunakan software legal. Itu saja sudah cukup.

Terlepas dari soal bajak membajak (yang karena ada perangkat hukum yang melarang menggunakan produk ilegal karena terkait HAKI), sudah saatnya memang kita perlu belajar untuk menghargai hasil karya orang lain. Bayangkan jika ada Sillicon Valley di negara kita, seperti di India, mestinya bisa mengangkat harga diri bangsa kita ini. Tapi terkadang, praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) masih menjadi sebuah momok, seperti telur dan ayam. Yahh…setidaknya kita bisa mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal kecil-kecil dalam kehidupan sehari-hari.

One thought on “Sekali lagi tentang bajak membajak

Komentar ditutup.