Obrolan tentang Investasi


Ketika saya berdiskusi dengan teman yang kebetulan memiliki sebuah warnet yang sudah di bangun sejak tahun 1998an. Topik yang sedang kami bicarakan adalah tentang bentuk investasi yang mungkin bisa dilakukan saat-saat “resesi” seperti ini, tanpa harus mengalami resiko besar. Hmm… dengan kata lain saya mencoba mendapatkan suatu ide investasi yang murah, resikokecil, tapi menjanjikan😀. Pertama saya memunculkan ide untuk membangun sebuah warnet seperti yang dia lakukan. Saya menguraikan ide-ide yang sebagian besar orang  juga miliki tentang sebuah warnet. Saya terkejut dengan apa yang diutarakannya. Bisnis Warnet saat ini sudah mulai lesu, dan mungkin suatu saat nanti akan bernasib sama dengan wartel. Mati! Mengapa? Coba perhatikan secara mudah saja. Ketika teknologi ponsel berhasil masuk ke pasar, mulai dari lini bawah sampai ke yang memimpin negara, bisa dikatakan hampir setiap orang memiliki sebuah nomor panggil. Akibatnya, wartel yang sudah mulai menjamur, bahkan bisa kita temui di lingkungan RT kita, mulai tidak banyak dipakai orang. Dengan ponsel (HP) orang secara mudah bisa saling berkomunikasi, tanpa harus repot-repot datang ke wartel yang bisa jadi butuh waktu dan tenaga. Di tambah lagi BRTI sendiri seperti “mengarahkan” operator ponsel untuk memberikan layanan dengan harga yang murah. Hal yang sama bisa akan terjadi pada bisnis warnet. Dengan masuknya teknologi 2.5G (GPRS) lalu di sambung dengan 3G (WCDMA, CDMA EV-DV, dsb.) atau bahkan 3.5 G (HDPA, dsb.), para operator ponsel dapat memberikan layanan jaringan pertukaran data digital dengan lebih baik dan tentu saja relatif murah (mungkin antara Rp 2 – Rp 25 per kilo byte). Selain itu Telkom sendiri sudah menjual layanan Internet melalui telepon rumah yang lebih murah dan bandwidth yang lebih baik daripada yang dulu, yaitu Speedy. Dengan mengusung teknologi ADSL/broadband network, kita bisa berinternet dengan lebih “leluasa” dan tidak mengganggu layanan telepon rumah. Jika dihitung-hitung memang, mengakses Internet di rumah atau menggunakan ponsel, bisa lebih murah dan tidak merepotkan. Saya membayangkan bagaimana sebuah warnet dengan harga Rp 2500/jam bisa terus survive (belum lagi jika tidak pake software legal, pasti didatangi terus oleh … — sudah tidak rahasia lagi)? Jadi bagi saya dan teman saya setuju bahwa bisnis warnet bukanlah hal yang menjanjikan lagi.

Diskusi kami berlanjut ke bentuk investasi lain. Kali ini dia menyarankan untuk terjun ke dunia saham. Dia menyakinkan saya bahwa itu menjanjikan, dengan syarat harus 100% memahami sistem saham, total terjun ke dalamnya, dan punya sense of business. Waduh… kalau yang ini jelas saya tidak punya. “Kalau tidak, ikut saja dana reksa atau obligasi. Yang penting adalah untuk investasi saat ini cari yang bunganya di atas inflasi. Kalau statistik bilang bahwa inflasi 6%an, tapi kenyataannya di lapangan di atas 10%” . Hmm… masuk di akal. Deposito? “Wah… sama sekali sudah tidak menjanjikan!”

Atau… mungkin bisa mulai jadi enterpreneur. Buka usaha baru, dengan modal yang tidak begitu besar. “Tapi kalau mau terjun jadi enterpreneur, harus totally focus on that!” Yang penting adalah kalau ingin mulai masuk ke bisnis, yang paling pertama yang jadi pertimbangan adalah niat dan semangat untuk memulainya, dan berani untuk menempuh segala resiko. Soal dana, itu bisa jadi nomor dua. Modal/dana bisa di temui di mana-mana, jangan dikuatirkan tentang itu. Yang penting lagi adalah bentuk bisnis yang akan di jalankan. Jangan sampai bisnis itu tidak terencana dan tidak terarah. Setiap orang bisa menjalankan bisnis sendiri. Yang tidak kuliah saja bisa, apalagi yang kuliah, harusnya bisa lebih baik. Demikian obrolan ringan antara saya dengan teman saya. Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Obrolan tentang Investasi

Komentar ditutup.