Apakah Ajax merupakan web 2.0?


Ajax sudah menggema sejak kurang lebih 3 tahun ini, dan banyak yang menyebut Ajax sebagai web 2.0. Nah…apakah memang web 2.0? Bisa di bayangkan memang, bahasa JavaScript yang sebelumnya sudah hampir mati karena berkurangnya peminat, tiba-tiba menghangat kembali, bahkan masuk dalam 10 besar bahasa pemrograman yang digunakan, karena muncul Ajax. Ajax sebagai ‘sosok’ yang mengusung konsep aplikasi desktop pada web telah membuat banyak orang terkesan. Bayangkan saja, kita bisa membuat aplikasi yang sangat interaktif di web browser pemakai. Bahkan kita bisa berinteraksi dengan web service secara mudah dengan menggunakan Ajax ini. Sungguh ruarr biasa! Efek samping dengan adanya ini adalah kebutuhan spesifikasi di sisi client pun menjadi lebih berat, karena sebagian pemrosesan untuk presentasi di lakukan kembali di sisi client (browser). Tapi bagaimanapun juga, Ajax telah menjadi kebutuhan “defacto” untuk sebuah aplikasi web. Jadi mungkin wajib perlu diketahui untuk para programmer web.

Kembali ke topik awal kita. Jika ada yang menyebut bahwa Ajax merupakan web 2.0 hal itu mungkin dikarenakan perubahan yang sangat mencolok yang di tawarkan Ajax untuk aplikasi web, maka orang juga menyebut Ajax sebagai sebuah penerapan web 2.0. Jika ditilik dari apa yang dibahas Tim O’Reilly dalam tulisannya berjudul “What Is Web 2.0 Design Patterns and Business Models for the Next Generation of Software“, beliau mengatakan bahwa pada web 2.0 hal yang perlu ditekankan salah satunya adalah web sebagai sebuah platform (sama seperti jika mengembangkan aplikasi pada platform Windows, Linux, dsb.). Oleh karena web harus sebagai sebuah platform, maka beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah interaksi yang dinamis, aplikasi menunjang pemakai untuk kustomisasi, menunjang jejaring sosial, dan aplikasi web dapat memberikan self description (metadata). Di wikipedia sendiri tertulis juga beberapa penerapan dari web 2.0 antara lain social-networking sites, wikis, blogs, dan folksonomies. Jadi, dari kedua tulisan tersebut boleh saya sarikan bahwa web 2.0 lebih menekankan pada bentuk aplikasi web yang menjadikan web sebagai sebuah platform yang dapat menjadikan web sebagai sarana untuk berkomunikasi dan membangun jejaring sosial pemakainya. Oleh karena web sebagai sebuah platform, maka dibutuhkan teknologi yang memungkinkan hal tersebut, Ajax yang digabung dengan XHTML dan CSS ternyata dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Ada yang lain juga seperti Macromedia Flash, Java Applet (sudah ditinggalkan dan “dapat” diganti dengan JavaFX), XUL dari Mozilla. (Di dalam XUL juga dapat dimasukkan AJAX.) Tapi akhirnya boleh kita katakan AJAX memang salah satu sebuah komponen teknologi kunci untuk dapat membangun aplikasi web 2.0, tapi AJAX bukanlah web 2.0 itu sendiri. Menurut saya, XUL bisa menjadi alternatif yang baik untuk membangun aplikasi dengan web sebagai platformnya.

One thought on “Apakah Ajax merupakan web 2.0?

  1. menambahkan pak…

    silverlight dari microsoft saingannya flash..

    konon katanya lebih ngasih user experience…

Komentar ditutup.